Lely Hartati
my official website

 
   
 
About My Family
(Keluarga adalah segala-galanya bagiku)
 
 



Me & Mom

Do'a seorang Ibu


Memohon Kebaikan Bagi Istri Dan Keluarga

Memohon Kebaikan Bagi Istri Dan Keluarga

Ditulis oleh Adm02   

Wednesday, 09 April 2008

 
wahai saudara-saudaraku sesama Muslim! Marilah kita hidup bersama Ibadurrahman, yaitu orang-orang yang dimuliakan Allah dan yang sifat-sifatnya telah disebutkan di dalam Kitab-Nya. Kali ini kita akan membicarakan salah satu sifat mereka dan merupakan sifat yang terakhir dari beberapa sifat, sebagaimana yang telah difirmankan Allah,

“Dan, orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa',” (Al-Furqan: 74).

  Apa makna sifat ini? Mereka berdoa kepada Allah, kembali dan menghadap ke Wajah-Nya yang mulia, memohon agar Dia menganugerahkan istri dan keturunan yang menyenangkan hati mereka, melapangkan dada, menggembirakan, dan juga memohon agar menjadikan mereka sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Doa ini menggambarkan harapan manusia. Jika yang diharapkannya adalah keduniaan, maka doa dan permintaannya itu terbatas untuk dunia saja, dan jika harapannya adalah akhirat, maka hasratnya tertuju ke akhirat. Allah telah menyebutkan beberapa sikap manusia pada musim haji,

”apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berdzikirlah (dengan men yebut) Allah, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia', dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan, di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dan siksa neraka'.”(AlBaqarah: 200-201).

Golongan yang pertama tercela dan golongan yang kedua terpuji, karena mereka memadukan dua jenis kebaikan, di dunia dan di akhirat.

Siapa yang ingin mengetahui harapan dan keinginan orang-orang Mukmin, gantungan mereka dan ke mana arah yang mereka kehendaki, maka hendaklah dia memperhatikan doa-doa mereka di dalam Al-Qur'an. Dan sini tentu kita bisa mengetahui ke mana arah yang mereka inginkan dan apa yang mereka harapkan. Sebagai contoh, kita mendapatkan orang-orang yang memiliki pengetahuan yang mantap memanjatkan doa sebagai berikut,

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dan sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha pemberi karunia.” (Ali Imran: 8).

Kita mendapatkan orang-orang yang berpikir memanjatkan doa Seperti yang disebutkan di akhir surat Ali Imran,

“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kalian kepada Rabb kalian'. Maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kasalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan, janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji “(Ali Imran. 193-194).

Kita mendapatkan orang-orang yang bersembunyi di dalam gua memanjatkan doa ketika mereka berlindung di dalam gua itu,

“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.” (Al-Kahfi: 10).

Kita mendapatkan lbrahim menghadap kepada Rabb-nya seraya berkata

“Ya Rabb kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenanlah doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Ibrahim: 40-41).

Begitulah kita mendapatkan harapan orang-orang Mukmin yang tecermin dalam doa mereka. Manusia memanjatkan doa menurut apa yang diinginkannya dan kesibukannya. Karena itu jika kita memperhatikan doa-doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hal-hal yang beliau mintakan perlindungan, tentu kita bisa mengetahui apa yang beliau pikirkan, apa yang beliau inginkan. Di antara doa beliau ada yang isinya permohonan perbaikan urusan agama, perbaikan urusan dunia dan akhirat, memohon tambahan kebaikan dalam kehidupan dan menjadi kematian sebagai pelepas dari segala kejahatan. Beliau biasa memanjatkan doa-doa yang sarat dengan berbagai makna, berlindung dari kemunafikan, dari akhlak yang buruk, berlindung dari cobaan yang berat, penderitaan yang terus-menerus dan lain-lainnya.

Dari sini kita bisa mengetahui bagaimana seharusnya orang Mukmin berpikir, apa yang mestinya dia kehendaki dan apa tujuan yang hendak diraihnya. Begitulah doa Ibadurrahman, dan kita sudah tahu apa yang mereka pikirkan, kemana mereka menuju dan apa yang mereka kehendaki serta macam apa doa yang mereka panjatkan. Allah telah menggambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya,

“Dan, orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal'” (Al-Furqan: 65).

Doa ini menggambarkan perhatian mereka terhadap urusan akhirat dan keinginan mereka untuk selamat dari siksa Allah. Di dalam doa ini juga terkandung perhatian mereka terhadap kehidupan ini, tapi mereka tidak memperhatikan nafsu syahwat atau kesenangan, karena perhatian mereka lebih banyak tertuju ke urusan yang lebih besar lagi. Hasrat mereka yang paling besar dalam memanjatkan doa kepada Allah ialah agar dianugerahi istri dan keturunan yang menyenangkan hati dan agar mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. Dengan kata lain, mereka tidak hanya sibuk dengan urusan diri sendiri. Mereka ingin agar kebaikan dan petunjuk juga merambah orang-orang di sekitar mereka. Sementara orang yang paling dekat dengan mereka adalah istri dan anak keturunannya. Mereka berdoa kepada Allah agar dianugerahi istri dan para wanita yang shalihah, dan anak-anak, putra-putri dan cucu-cucu. Yang membuat mereka senang ialah jika istri dan anak-anaknya diberi taufik untuk taat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kedurhakaan kepada Allah, ketika mereka meniti jalan kebaikan.

Yang membuat orang Mukmjn merasa senang ialah jika mendapatkan seorang istri yang shalihah, membuatnya senang apabila dia memandangnya, taat jika dia menyuruhnya menjaga kehormatannya jika dia pergi, membantunya pada ketaatan kepada Allah, menganjurkannya kepada iman dan takwa kepada Allah, tidak berkata, “Mengapa engkau tidak seperti FuIan yang mampu mengumpulkan uang segudang?” Atau perkataan lain yang menghina karena kemiskinan sang suami dan memperlakukannya dengan cara yang jahat.

Seorang istri dan orang-orang salaf yang shalih menyampajkan pesan kepada suami yang hendak pergi mencari sebagian dari karunia Allah, “Wahai Abu Fulan, janganlah engkau mencari hasil dari yang haram, karena kami bisa bersabar menghadapi lapar dan dahaga, namun kita tidak sabar karena api neraka dan kemurkaan Allah.”

Ini merupakan kata-kata yang keluar dari seorang istri yang shalihah yang membuat seorang suami diam terpaku dan harus berpikir seratus kali jika dia terbujuk oleh nafsu yang mengajak kepada keburukan atau menyeretnya kepada hal yang haram, menerima suap, mengambil harta orang lain dengan cara batil, menimbun makanan pokok manusia, harga jual barang dagangan dan lain-lainnya darii cara-cara yang tidak diperkenankan.

Jstri yang membuat lbadurrahman merasa senang ialah istri yang shalihah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dunia ini perhiasaan, dan sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita shalihah”

Yang diharapkan bukan sekedar wanita yang cantik, terpandang berdarah biru dan benkedudukan. Yang demikian ini biasanya hanya dinikahi laki-laki yang juga setara. Tapi yang lebih penting dari semua itu ialah wanita yang patuh memeluk agama, yang takut kepada Allah, yang menginginkan suami hidup dalam wilayah yang halal dan mendidik anak-anaknya dan menumbuhkan mereka dari mata pencaharian yang halal.

Begitulah wanita shalihah yang menjadi simpanan amat beharga dan menjadi incaran semua manusia. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Tldaklah seorang Mukmin mendapatkan sesuatu yang lebih baik setelah takwa kepada Allah selain dart istri yang shalihah. Jika dia menyuruhnya, maka istrinya itu menaatinya. Jika dia memandangnya, maka istrinya itu membuatnya senang. Jika dia memberikan bagian kepadanya, maka istrinya itu berbuat baik kepadanya. Jika dia meninggalkannya, maka istrinya itu menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.” (Diriwayatkan Ibnu Majah).*) Meskipun sanad hadits mi dha'if, tapi ada penguat yang lain.

Kemudian beliau membaca ayat, “Maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara (mereka)....” (An-Nisa': 34)

Istri yang menyenangkan di mata suaminya ini merupakan unsur yang fundamental dari berbagai unsur kebahagiaan dalam kehidupan ini, Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits shahih,

“Di antara kebahagiaan Bani Adam ialah istri yang shalihah, tempat tinggal yang layak dan kendaraan yang layak pula. “ (Diriwayatkan Ahmad).

Disebutkan dalam hadits lain,

“Empat perkara, siapa yang diberi empat perkara ini, maka dia telah diberi kebaikan dunia dan akhirat, yaitu: Hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, badan yang sabar menghadapi bala' dan istri yang tidak menimbulkan kesukaran dalam dirinya dan hartanya.” (Diriwayatkan Ath-Thabrany).

Jadi di antara kebaikan dunia dan akhirat, kebaikan yang menjadi simpanan bagi manusia ialah istri yang membantunya dalam menegakkan agama, menjadi penolong untuk melawan syetan, bukan istri yang bersama syetan untuk melawannya, sehingga dia harus menghadapi dua syetan, syetan dari dalam dirinya dan syetan dari dalam rumahnya.

Para istri orang-orang salaf biasa mendorong suaminya untuk berjihad, bekorban dengan jiwa dan harta, keluar fi sabiiillah, ikut andil dalam membangun peradaban Islam, mendirikan negara Islam, meninggikan kalimat Allah di muka bumi, menghadapi para thaghut yang menyebarkan keburukan di tengah umat Islam. Para istri itu menyuruh suaminya beijihad. Jika mereka didatangi orang-orang yang suka bicara tak karuan, seraya berkata, “Bagaimana mungkin suamimu meninggalkanmu? Dari mana engkau makan?” Dengan penuh keyakinan istri yang shalihah ini menjawab, “Semenjak kami menikah, aku melihat suamiku selalu dapat makan dan dia bukanlah pemberi rezki bagi keluarganya. Jika orang-orang yang biasa makan pergi, maka Dzat Pemberi rezki tidak pernah pergi.”

Beginilah seorang istri yang menjadi penyenang hati. Sedangkan wanita lain adalah mereka yang hanya mendatangkan musibah dan membuat tulang punggung menjadi penat. Siapa yang ingin mendapatkan kesenangan hati, hendaklah dia memilih wanita yang taat dalam agamanya, yang menyenangkan jika dipandang, yang membuat dada menjadi lapang dan yang menolong dalam urusan agama, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits,

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Carilah wanita yang taat kepada agamanya, niscaya hal itu cukup bagimu.” (Diriwayatkan AlBukhary dan Muslim).

Yang paling penting dari empat perkara ini ialah pertimbangan agama, mencari wanita yang taat dalam beragama, karena dia akan menjadi pendamping dalam kancah kehidupan, sambil senantiasa berdoa, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami Sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Ini adalah harapan kaum laki-laki, dan para wanita pun harus mempunyai harapan yang sama serta memanjatkan doa yang sama, agar dia diberi suami yang shalih oleh Allah, yang menyuruhnya mengerjakan shalat dan zakat, seperti yang dilakukan Nabi Isma'il,

“Dan, dia menyuruh keluarganya untuk mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat, dan dia adalah orang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (Maryam: 55).

Sang suami mengajak istninya kepada kebaikan dan memperingatkan untuk menjauhi keburukan, tidak seperti yang dikerjakan kebanyakan para suami pada zaman sekarang, yang tidak peduli terhadap shalat istrinya dan tidak pernah bertanya kepadanya, apakah istrinya itu melaksanakan hukum-hukum Allah ataukah mengabaikannya? Bahkan banyak suami yang lenyap di jalan syetan dan dia ingin agar istrinya juga lenyap bersama dirinya. Sehingga tidak jarang keluhan disampaikan para istri karena ulah suaminya yang makan minum pada siang hari di bulan Ramadhan dan mengajak istrinya melakukan kedurhakaan terhadap Allah, atau keluhan yang disampaikan para suami karena kebiasaan istrinya yang meninggalkan shalat.

Doa yang perlu dipanjatkan seorang wanita ialah agar Allah memberinya suami yang menyenangkan hatinya dan mendorongnya kepada ketaatan. Sungguh merupakan bencana yang besar jika seorang wanita Mukminah mendapatkan suami yang sama sekali tidak takut kepada Allah, tidak pernah menekur untuk ruku' dan sujud kepada Allah, tidak melaksanakan kewajiban dan tidak mengagungkan syiar Allah. Alangkah banyak kejadian seperti yang kita lihat di tengah masyarakat.

Jika seseorang menghendak kebaikan, maka kebaikan paling dekat yang diharapkannya ialah pada diri istri, anak-anak dan cucu-cucunya. Dia harus mengharapkan kebaikan dan hidayah bagi mereka. Al-Hasan pernah ditanya tentang makna penyenang hati di dalam ayat di atas, apakah hal itu berlaku di dunia ataukah di akhirat? Maka dia menjawab, “Demi Allah, itu berlaku di dunia.” Sedangkan menurut Ikrimah, makna penyenang hati ini bukan karena faktor kedudukan dan kecantikan, tapi karena ketaatan kepada Allah.

Orang Mukmin tidak cukup merasa senang karena anak-anaknya sudah besar, berpenghasilan, menjadi orang kaya dan milyuner, tapi di kemudian hari mereka menjadi penghuni neraka. Dia mempunyai tanggungjawab menjaga mereka dari api neraka, sebagaimana dia menjaga dirinya dari api neraka itu. Firman Allah,

“Hal orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”(At-Tahrim: 6).

Karena itu marilah kita jaga istri dan putra-putri kita dari api neraka. Marilah kita jauhkan mereka dari api neraka, sebagaimana kita menjauhkan diri kita darinya. Apakah kita merasa senang jika melihat anak kita menjadi santapan api neraka? Taruhlah bahwa anak-anak kita bisa menjadi pembesar atau milyuner di dunia ini. Tapi apalah artinya kedudukan dan kekayaan itu jika di kemudian hari mereka menjadi bahan bakar neraka Jahannam? Disebutkan di dalam hadits shahih, kemalangan hidup jika seseorang mendapatkan anaknya menjadi orang yang durhaka, sulit dididik, merepotkan, setelah besar memberontak terhadap ayah ibu dan keluarga, bersikap kasar, dengan perkataan maupun perbuatan. Padahal Allah telah befirman,

“Setiap orang di antara kalian menjadi pemimpin dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin) menjadi pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki menjadi pemimpin di tengah keluarganya dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya. Seorang pembantu menjadi pemimpin terhadap harta tuannya dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Setiap orang di antara kalian menjadi pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Setiap orang menjadi pemimpin dan harus menjaga amanat Allah yang dibebankan kepadanya. Disebutkan dalam sebuah hadits,

“Sesungguhnya Allah akan bertanya setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaga ataukah menyia-nyiakan, hingga seorang laki-laki ditanya tentang anggota keluarganya. “ (Diriwayatkan An-Nasa'y dan Ibnu Hibban).

Pertanyaan paling dekat yang disampaikan kepada seseorang ialah tentang istrinya dan putra-putriinya, apa yang dia perbuat terhadap mereka? Apakah dia menjaga mereka dari api neraka? Apakah dia mengajarkan kebaikan kepada mereka? Apakah dia memperingatkan mereka dari keburukan? Apakah dia mengawasi mereka? Firman Allah,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendiriikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepada kamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan, akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132).

lstri dan anak keturunan menjadi penyenang hati jika mereka merupakan orang-orang yang berbakti, mengetahui hak ayah dan ibu, sebagaimana mereka mengetahui hak-hak Allah. Sungguh merupakan kesialan dan kemalangan hidup jika seseorang mendapatkan anaknya menjadi orang yang durhaka, sulit dididik, merepotkan, setelah besar memberontak terhadap ayah ibu dan keluarga, bersikap kasar, dengan perkataan maupun perbuatan. Padahal Allah telah befirman,

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan ‘Ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan, rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil'.” (Al-Isra': 23-24).

Banyak orang yang mengeluh tentang kedurhakaan dan kenakalan anak-anaknya, yang tidak berbuat baik kepada keluarganya, tidak dahulu tidak pula sekarang, yang sebabnya anak-anak mereka itu tunduk kepada istrinya yang tidak berakhlak, menuruti syetannya dan hawa nafsunya. Yang demikian ini merupakan salah satu sebab bencana.

Musuh di dalam selimut sangat mengganggu jiwa dan menyakitkan hati, apalagi jika datang dari orang yang sangat dekat denganmu. Engkau tentu akan sedih jika engkau ditikam orang yang justru paling engkau cintai, baik istrimu, putrimu atau kerabatmu.

Karena itu Ibadurrahman memohon kepada Allah agar Dia mengaruniakan anak keturunan yang menyenangkan hati, yang memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak kedua orang tua. Lewat doa yang dipanjatkan itu mereka juga ingin menyebarkan kebaikan di tengah manusia, memiliki kedudukan yang tehormat di tengah mereka dalam masalah kebaikan dan petunjuk, bukan dalam masalah yang berkaitan dengan uang dan kebendaan serta kedudukan. Mereka ingin agar menjadi teladan bagi orang-orang yang baik. Maka tidak ada salahnya orang Mukmin meminta kepada Allah agar dijadikan sebagai pemimpin dalam kebaikan dan bagi orang-orang yang baik.

Kepemimpinan itu ada dua macam, kepemimpinan dalam kebaikan dan kepemimpinan dalam keburukan. Para pemimpin juga ada dua macam, pemimpin yang mengajak ke surga dan pemimpin yang mengajak ke neraka. Allah mensifati para pemimpin kebaikan dalam firman-Nya tentang sebagian para rasul,

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menaikan zakat dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah. (al Anbiya' : 73) Allah juga befirman tentang golongan lainnya,

“Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan, adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24).

Siapa yang menghendaki kepemimpinan, maka dia harus memiliki dua sifat: Sabar dan yakin. Sabar dalam melawan nafsu dan yakin dalam melawan syubhat. Dengan dua sifat ini pikirannya tentu menjadi istiqamah, begitu pula perilakunya. Begitulah keadaan para pemimpin kebaikan. Adapun tokoh pemimpin yang buruk adalah Fir'aun, Haman, Qarun dan siapa pun yang serupa dengan mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Dan, Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. “(Al Qashash: 41).

Memang Fir'aun, Haman dan Qarun dijadikan pemimpin, tetapi pemimpin dalam keburukan, kejahatan dan yang mengajak ke neraka. Dan memang banyak pemimpin pada zaman sekarang yang mengajak manusia ke neraka, dengan penanya, dengan lisannya, dengan pemikiran-pemikirannya, dengan buku-bukunya. Maka siapa yang memenuhi ajakan para pemimpin ini, maka mereka benar-benar akan dilemparkan ke neraka. Disebutkan dalam hadits shahih,

“Ada para penyeru di ambang pintu-pintu neraka Jahannam. Siapa yang memenuhi seruan itu, maka mereka akan melemparkannya ke dalam neraka itu. “ (Diriwayatkan Muslim).

Wahai Akhi Muslim! Jadilah engkau golongan Ibadurrahman yang senantiasa memanjatkan doa, “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan Ibadurrahman dan berikanlah kepada kami sebagian dari kepemimpinan seperti yang diinginkan lbadurrahman.